(puisi) Aku dan Duniaku

Standard

Aku dan Duniaku

Awan Cumulo Nimbus[1], berjalan gagah menyisir langit-langit bumi

Dengan penuh harap para petani, menanti  dalam tempat mereka bersembunyi

Telah terasa angin itu menerpa badanku yang kecil ini, menembus bilik-bilik nadi dalam sukmawi

Elok dan kacau dunia ini, tergantung pada tangan sang dewi bumi.

Wahai insan duniawi

Pandangilah langit dan bumi yang kaya dengan isi-isi

Kelolalah ia dengan sepenuh hati,

Agar kelak kau dapati permata intisari bumi yang abadi.

Anak-anak kecil keluar berlarian menyisiri aliran sungai yang sedang tenang berjalan

Amarah Dewa Zeus[2] yang tadi menyambar-nyambar, kini mulai tenang dan padam.

Mereka mulai kelelahan dan berjalan dengan pelan

Tak terasa, malam telah siaga, bersama bulan, bersinar menghapus kelam.

Satu-persatu cahaya malam mulai beterbangan, berbaur dengan cahaya sinar yang memancar

Semakin jauh bayangan seseorang yang kelam tertelan dalam kegelapan

Termenung dalam diam, di bawah sinar rembulan daku bersandar.

Mataku mulai terpejam, terdiam, dalam mimpi mengantarkanku ke masa semua harapanmenjadi kenyataan.

By KR,


[1] Awan hitam, yang menandakan akan turun hujan.

[2] Lih, Dewa Petir

Advertisements

About mkhafidrifai

My name is M Khafid Rifai was called Khafid but there are also who like to call me as Rifai. I am male and I am the sixth child’s from the seventh child and I have three brothers and three daughters. My father’s name is H. Latif and my mother’s name is Sarotun. We live in a place that is in the Blitar area in street, Tunjung Kidul RT01/RW01. Precisely Tunjung Kidul Village, Sub district Udanawu regency Blitar.

Comments are closed.