Category Archives: Puisi

“Menghapus Jarak”

Standard

Persetan dengan sekat-sekat yang ada

Sudah saatnya hidup apa adanya.

Bersama dengan berjalanya waktu kehidupan

Yang akan terus berjalan,

 

Berhentilah mengkebiri diri sendiri

Demi prestigious di dalam hati yang mandiri

Melepas belenggu yang ada pada hati

Membuka diri pada hakikat Illahi.

 

Tidak ada yang salah,

Jika si miskin jatuh hati pada si kaya

Tidak ada yang salah,

Jika si tampan jatuh hati pada si buruk rupa

 

Semua mempunyai kedudukan yang sama

Di mata Tuhan yang maha Kuasa

Tidak ada lagi kebiri diantara kita

Hidup, mengalir apa adanya.

 

 

 

Advertisements

“KUTITIPKAN HUJAN”

Standard

ketika wajahmu kering
kutitipkan hujan pada angin
menyeka belaian sejuk di tiap lekuk
kau menghela rambut yang berkelebat
menari tersipu malu

belaian keagungan
membuka belalak mata
kekasih dimanjakan dengan cinta
yang menyusur urat nadi

aku coba mengerti
ketika hujan pergi
tinggal sisa genangan
jadi lembah bertemu
menyesali rindu tak mampu berguru

By KR

(puisi) “Proses Hidup”

Standard

Image

” Proses Hidup”

Roda, Rembulan, Bumi

Planet, Meteor, Mentari

Semuanya akan memutari

Suatu takdir yang pasti.

 

Kehidupan harus tetap dijalani

Meskipun harus jatuh tersakiti

Semua itu terus terjadi

Sebagai bukti kekuasaan illahi Robbi.

 

Hidup bagaikan roda yang memutari jalan

Terjal, mulus, berkelok, lurus, dan kadang harus berhenti

Roda harus tetap berputar untuk mengitari

Sampai suatu teempat tujuan yang pasti.

 

Hidup bagaikan rembulan mengitari bumi

Terang, redup, gelap dan kadang harus menghilang itu biasa

Di anggap, di benci, di hindari itu senantiasa

Akibat kegundahan hulu hati di dalam diri.

 

Hidup bagaikan tanah lapang di atas bumi

Kering, basah, subur, gersang, silih berganti

Semua itu memanglah rahasia illahi robbi

Harus terjadi demi kelangsungan kehidupan ini.

 

Hidup bagaikan planet berputar memutari orbit

Berputar lurus pada poros yang pasti

untuk menempati Takdir Illahi.

Ya..Robbi..

By KR,

 

 

 

 

 

 

(puisi) ” Dunia Kertas”

Standard

Image

“Dunia Kertas”

Kertas-kertas berserakan dimana-mana, menuliskan secercah kata

Engkau tuliskan beribu kata, tanpa tahu apa-apa

Di cerca, di cerna, di hina, engkaupun diam tidak menyapa

Sungguh mulianya sebuah kata, goresan tinta membuat engkau lebih bermakna

 

Tapi, apa daya engkau berkata, diam. Engakau tidak menyapa

Beribu orang menuliskan sebuah kata, tertata rapi nan elok di pandangnya

Tanpa tahu apa tujuanya, engkau tetap terdiam saja

Sungguh biadab orang yang menggunakanya, tanpa memberi tujuan manfaatnya

 

Kertas-kertas berserakan dimana-mana. Sudahkah engkau menuliskan sebuah kata?

Bermanfaat adalah tujuan satu-satunya, ilmu telah memberikan segala-galanya

Bagi siapapun yaang mau mempelajarinya, terkuak sebuah rahasia besar di dalamnya

Sungguh realita pahit yang harus di rasakanya,

Beribu-ribu lembar manfaatnya, tapi sedikit orang yang memanfaatkanya

Sungguh pahit kenyataanya, tapi engkau tetap diam tidak menyapa

Kertas-kertas berserakan dimana-mana.

By KR,

 

 

 

(puisi) “Who I Am”

Standard

Image

“Who I am”

Setiap langkah yang aku tuju, bayangan menyelimutiku

Setiap langkah yang aku tuju, seseorang di depanku

Setiap langkah yang aku tuju, angan-angan menghantuiku

Setiap langkah yang aku tuju, penilaian menghampiriku

Setiap langkah yang aku tuju, omongan menuntunku

Setiap langkah yang aku tuju, orang lain mengkritikku

Setiap langkah yang aku tuju, kebingungan pertimbanganku

Setiap langkah yang aku tuju, itu bukan aku..*

Lalu siapakah aku? Aku ini Siapa? Siapa ini aku?

by KR.

(puisi) Aku dan Duniaku

Standard

Aku dan Duniaku

Awan Cumulo Nimbus[1], berjalan gagah menyisir langit-langit bumi

Dengan penuh harap para petani, menanti  dalam tempat mereka bersembunyi

Telah terasa angin itu menerpa badanku yang kecil ini, menembus bilik-bilik nadi dalam sukmawi

Elok dan kacau dunia ini, tergantung pada tangan sang dewi bumi.

Wahai insan duniawi

Pandangilah langit dan bumi yang kaya dengan isi-isi

Kelolalah ia dengan sepenuh hati,

Agar kelak kau dapati permata intisari bumi yang abadi.

Anak-anak kecil keluar berlarian menyisiri aliran sungai yang sedang tenang berjalan

Amarah Dewa Zeus[2] yang tadi menyambar-nyambar, kini mulai tenang dan padam.

Mereka mulai kelelahan dan berjalan dengan pelan

Tak terasa, malam telah siaga, bersama bulan, bersinar menghapus kelam.

Satu-persatu cahaya malam mulai beterbangan, berbaur dengan cahaya sinar yang memancar

Semakin jauh bayangan seseorang yang kelam tertelan dalam kegelapan

Termenung dalam diam, di bawah sinar rembulan daku bersandar.

Mataku mulai terpejam, terdiam, dalam mimpi mengantarkanku ke masa semua harapanmenjadi kenyataan.

By KR,


[1] Awan hitam, yang menandakan akan turun hujan.

[2] Lih, Dewa Petir